Ketua PGRI NTT Dr. Sam Haning Angkat Bicara: Guru Honorer Berjalan 6 KM, Gaji Hanya Rp300 Ribu!

Kupang, NTT – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Samuel Haning, SH., MH., CMe., CPArb,  menyoroti kisah memilukan seorang guru honorer, Vincencia Ervina Taluma, yang harus berjalan sejauh 6 kilometer setiap hari demi mengajar di dusun Wair Bukang kelas jauh SDK 064 Watubala, Kabupaten Sikka. Lebih ironis lagi, pengabdiannya hanya dihargai dengan honor Rp300 ribu per bulan, yang terdiri dari Rp150 ribu dari komite sekolah dan Rp150 ribu dari Dana BOS.

Menanggapi kondisi ini, Dr. Sam Haning kepada media Rabu, (19/03) menegaskan, bahwa guru seperti Vincencia layak mendapatkan perhatian lebih. "Kita harus menghormati dan menghargai perjuangan guru-guru seperti ibu Vincencia. Mereka adalah 'Patriot Guru' yang bekerja tanpa pamrih untuk mencerdaskan anak bangsa," ujarnya.

Perjuangan Vincencia mencerminkan nasib banyak guru honorer di Indonesia, khususnya di daerah terpencil. Selain gaji yang minim, akses jalan menuju sekolah yang buruk dan fasilitas yang terbatas semakin memperburuk kondisi mereka.

Dr. Sam Haning menyoroti kebijakan pemerintah yang kini melarang status guru honorer, sehingga banyak tenaga pendidik kehilangan penghasilan tetap. "Satu-satunya cara untuk membantu mereka adalah dengan adanya inisiatif masyarakat melalui sumbangan sukarela. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan kita perlu mencari solusi agar guru honorer tetap bisa menjalankan tugasnya," tambahnya.

Tak hanya soal honor, Sam Haning juga menyoroti minimnya fasilitas sekolah di daerah pelosok. SDK Watubala kelas jauh dusun Wair Bukang disebut hanya memiliki satu ruang kelas dengan kondisi yang tidak layak.

"Saya sangat berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah. Akses jalan dan infrastruktur pendidikan harus menjadi prioritas, agar guru dan siswa tidak mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar," tegasnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Dr. Sam Haning  Ketua PGRI NTT berjanji akan mengunjungi SDK Watubala dalam waktu dekat untuk bertemu dan melihat langsung  Vincencia dan sekolah tempatnya mengajar.

Kasus seperti yang dialami Vincencia hanyalah satu dari sekian banyak kisah guru honorer di Indonesia yang masih berjuang di tengah keterbatasan. Ketua PGRI NTT menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, baik dari segi finansial maupun infrastruktur pendidikan.

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh kesejahteraan tenaga pendidiknya. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, masa depan pendidikan di daerah terpencil akan semakin tertinggal. *(go)



Iklan

Iklan