Puasa, Melepas Dahaga Fisik Berganti Haus Akan Allah


Oleh: Saturlino Correia, S.Th. M.pd

Refleksi - SEBAGAI kewajiban agama, item puasa akan terus bergulir selama manusia beragama ada dan hidup. Kegiatan masal keagamaan ini juga terus bergulir reguler sesuai kalender perayaan keagamaan tahunan karena merupakan warisan tradisi, berkonsep biblis, dan jadi aturan-hukum agama.

Ada aneka makna dan tujuan yang dapat diraih di masa puasa dan/ tobat ini. Karenanya Sebagai suatu pelatihan rohani, puasa (dan tobat) diharapkan dapat menghantar para pelakunya menyadari panggilan hidupnya menjadi manusia (berperikemanusiaan) dan eksistensinya sebagai umat Allah. Efeknya puasa (dan tobat) tidak hanya sebatas aktivitas seremonial lahiriah tetapi utamanya aspek rohaniah. 

Intensi suci di atas masih jauh dari kehidupan kaum Asyur di kota Niniwe. Kisah kitab Yunus, Niniwe adalah ibu kota kerajaan Asyur, sebuah kota besar, yang terletak di tepi timur sungai Tigris dan Mesopotamia utara. Posisi itu sekarang, berhadapan dengan kota Mossul-Irak. Doeloe kala Niniwe sudah masyur. Ia menjadi pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang budaya, sosial dan aliran kepercayaan (agama). Kota itu juga merupakan kantong kriminal. Saban hari situasi kotanya serentak bernuansa sorga dunia dan neraka. 

Penduduknya kafir dengan ritus penyembahan berhala yang kuat. Berdiri tegak di sana kuil-kuil megah untuk menyembah dewa nabu dan isytar.  Atas situasi malang rohaniah ini, juga kehidupan dan sikap kafir ini, Allah tergerak hatinya untuk tidak meninggalkan Asyur. Keselamatan harus untuk kaum Asyur di Niniwe dan Yunus diutus Allah ke sana. 

Yunus tidak serentak ke Niniwe untuk menyampaikan seruan pertobatan. Ia melarikan diri ke Tarsis. Pelarian Yunus atau menolak ke Niniwe beralasan, pertama, Yunus meyakini sikap superioritas bani Israel dan datang dari tribe Ibrani.  Konsep partikularistiknya amat kuat. Baginya Israel adalah bangsa pilihan, bangsa kudus dan paling benar, maka anugerah keselamatan hanya untuk Israel.  Dengan konsep ini ia menolak (secara radikal) konsep anugerah keselamatan universalistik (Anugerah keselamatan juga untuk bangsa lain). Inilah klaim keyakinan Israel.

Kedua, tugas perutusan sebagai nabi itu berat. Karena seorang nabi harus menjadi “saksi” Allah. Kata ’saksi’ dalam bahasa Yunani adalah “martus”. Kata “martus” ini bisa berarti saksi, syahid atau martir. Menjadi ”saksi Allah” berarti siap untuk syahid atau martir (korbankan jiwa dan raga). 

Konsep sakral kemartiran, kemudian terwariskan dan amat memungkinkan jadi alasan untuk tidak sedia menjadi ”martir”.  Kisah Kitab-Kitab membuktikan hal ini. Musa, misalnya ketika dipanggil oleh Allah, sempat menolak. Ia beralasan tidak pandai berbicara (bdk. Kel. 4:10); Yeremia ketika dipanggil oleh Allah, ia beralasan tidak pandai berbicara dan masih muda (bdk. Yer. 1:6). Yunus, menghindari perutusan dengan melarikan diri ke Tarsis. Walau akhir kisah semua tetap bersedia menjadi nabi karena kehendak Allah. 

Yunus menjadi utusan dan tanda pertobatan penduduk Niniwe. Oleh pewartaan Yunus seluruh penduduk Niniwe juga rajanya akhirnya bertobat dan kembali kepada Allah. Wujud tobat ditunjukkan melalui puasa dan mengenakan kain kabung. Jadi puasa mereka tidak hanya aksi yang melahirkan lapar dan dahaga secara fisik –lahiriah- tetapi lapar dan dahaga akan Allah.

Aplikasi kisah Yunus untuk ”gereja” hari-hari ini. Gereja dalam pemahaman kita adalah persekutuan orang-orang Kristen (percaya kepada Yesus Kristus). Semua orang percaya ini dipanggil oleh Allah menjadi nabi-Nya. Karena itu tugas kenabian tidak terbatas pada para pekerja gereja, seperti pendeta, vikaris, guru injil, presbiter dan atau majelis jemaat.

Konkretisasi Niniwe dan situasinya juga bukan jauh berada di Timur Tengah tetapi di sini dan sekarang ada. Pertama, situasi Niniwe dengan segala kegarangan fisik-jasmanianya berupa tindak kekerasan (tanpa perikemanusiaan) dan perilaku jahat ada juga dalam diri/ pribadi setiap kita orang Kristen. Oleh karenanya, kita harus menjadi nabi bagi diri kita sendiri. Artinya, kita harus mampu untuk merubah perilaku kita yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Menolak pembunuhan-bunuh diri, pelecehan seksual, menolak aborsi, menghindar jerat judi dan narkoba dan sejenisnya 

Kedua, Situasi Niniwe ada dalam rumah tangga- rumah tangga Kristen. Olehnya, kita dipanggil menjadi nabi bagi keluarga kita. Kita bertanggung jawab melakukan pembaharuan dalam keluarga/ rumah tangga kita yang kurang bahkan tidak harmonis dengan kembali membangun firdaus di keluarga. 

Ketiga, situasi Niniwe ada di tempat kerja kita dan komunitas sosial. Olehnya kita adalah nabi –utusan- Allah di tempat di mana kita bekerja dan bersosialisasi. Kita harus berani menentang/ melawan praktek kerja yang tak terpuji, perbuatan-perbuatan tercela, curang, tidak adil, manipulasi, KKN dan sejenisnya. Jika kita tidak berani melakukan pembaharuan berarti kita butuh Yunus yang lain, yang siap menobatkan kita agar kita bertobat dan diasupi rahmat karena dahaga akan Allah. 

Kejahatan utama yang dilakukan penduduk Asyur di kota Niniwe adalah penyembahan berhala (kepada dewa nabu dan isytar). Sadar atau tidak, kita orang percaya juga pada saat ini sedang melakukan kejahatan itu. Berhala kita lebih modern, seperti perjudian, mabuk-mabukan, perzinahan, pelecehan seksual, ketidakpuasan, ketamakkan, materialistis, gaya hidup hedonis, suka pada kebiasaan buruk, tidak disiplin dengan waktu, pekerjaan/ tugas, dan regulasi. Kita tahu dan sadar bahwa, apa yang kita lakukan/ perbuat itu sesungguhnya salah, tetapi kita tetap gemar melalukan, dan sulit untuk melepaskannya. 

Sesuatu yang salah tetapi karena sudah terbiasa melakukan, maka dianggap sebagai benar. Ini lah bentuk penyembahan berhala modern. Dalam hal ini iman Kristen menuntut kita supaya tidak membenarkan kebiasaan yang salah, tetapi membiasakan yang benar. 

Penyembahan berhala modern  adalah praktek-praktek yang menunjukkan kekafiran. Pengertian ”kekafiran” tidak hanya terbatas pada orang-orang yang tidak menganut agama resmi (Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu), namun lebih jauh adalah perilaku jahat. Contoh nyata, seperti korupsi, kasus-kasus politik lain (money politic, politik identitas, janji-janji palsu dll), pengkhianatan terhadap kejujuran dan suara hati/ nurani (penyelewengan keuangan, penyalahgunaan kuasa dan jabatan, identik dengan premanisme politik). Orang-orang seperti ini, secara formal mereka beragama resmi, namun kafir dalam keyakinan. 

Sadar atau tidak, sebagai orang Kristen, tidak sedikit orang yang mempraktekkan sikap Yunus dalam kehidupan praksis. Sikap ”lari ke Tarsis” dapat dianalogikan dengan bersikap acuh-tak acuh/ masa bodoh, tidak setia, mempersulit masa depan/ karier sesama, baik itu keluarga -sedarah daging- maupun yang bukan keluarga, bukan sesuku, dan seagama. Kita seperti tidak bersedia membagi berkat keselamatan atau sepadan dengan tidak membagi ”talenta lebih” yang ada pada diri sebagai penyalur berkat Allah bagi orang lain.

Yunus artinya merpati, dengan sifat setia dan tulus. Di awal Yunus tidak membuktikan aksi perutusannya sesuai namanya. Realita ini juga tidak banyak tergambar pada kehidupan pasangan muda dan keluarga kristen. Dalam pelayanan dan pekerjaan, tugas-panggilan dan tanggung jawab yang diberikan baik secara formal maupun non-formal. Ketidaksetiaan dan ketidaktulusan dalam aneka contoh di atas adalah bukti kita menolak pengutusan Allah untuk pergi ke ”Niniwe” dalam konteks kita hic et nuch. Perutuan kita adalah Pro Deo Glorya Homo Vivens, (Editor: Al Hayon)*

Iklan

Iklan